Resensi buku

Rabu, 05 September 2012

Semua tentang Chelka

Matahari menyembul dari balik awan, tanpa ragu membagi sinarnya ke seluruh penjuru. Siang yang terik tak membuat Chelka gentar berjalan menyusuri lapangan basket kampusnya. Dengan ransel di punggungnya cewek berkaca mata itu tergesa – gesa menuju ruang perkuliahan yang terletak di sebelah utara. Chelka terpaksa memotong jalan melewati lapangan basket yang ‘terang’ karena sinar matahari.

Tiga menit lagi final mata kuliah Kritik Sastra dimulai. Chelka memasuki ruang kelas dengan napas terengah – engah. Matanya menyapu seluruh ruangan mencari bangku yang belum berpenghuni.

“Chelka!” panggil Dalvin.

Chelka berbalik ke arah suara dan mendapati sahabatnya sedang melambai ke arahnya. Cewek manis itu lalu berjalan menuju bangku kosong tepat di sebelah Dalvin, yang ternyata memang dipersiapkan untuknya.

“Kok terlambat?” tanya Dalvin.

“Macet." Dan pengawas pun datang.
*

Chelka baru saja dari kelas Aneta yang juga sahabatnya -tetapi berbeda kelas- ketika tanpa sengaja dia bersenggolan dengan seseorang di ujung koridor. “Oh, maaf,” kata Chelka tanpa memperhatikan wajah orang yang ditabraknya.

No problemo. Eh, Chelka ya?”

Chelka akhirnya menoleh ke arah si empunya suara. Barulah dia melihat dengan jelas wajah cowok itu. Garis mukanya datar, dengan alis yang sama tipis dengan garis bibirnya. Rambutnya acak – acakan seperti belum disisir. “Oh, iya. Alen, kan? Teman sekelasnya Aneta?”

Cowok yang ternyata bernama Alen itu pun mengangguk. Chelka yang tadinya berniat ke kantin akhirnya batal ke kantin karena Alen mengajaknya ngobrol. Mereka membahas soal–soal final tadi.

Chelka terkesima karena kepandaian cowok di depannya. Bukan hanya soal sastra, bahkan lebih dari itu Alen bisa menjelaskannya. Teori beserta ahlinya pun tak luput dari penjelasannya. Chelka hanya berani berkomentar, “Ternyata kamu itu pintar, ya? Tapi kata Anet, kamu itu jarang bicara di kelas. Padahal kalau aku lihat, kamu itu cerdas!” kata Chelka polos.

Alen hanya tersenyum tipis. Sekali lagi Chelka terpana. Bukan karena senyum Alen yang mau dilihat dari sudut mana pun memang sangat manis, tapi karena dia teringat julukan teman–temannya untuk Alen, yaitu ‘cowok datar’. Untuk ukuran orang yang baru pertama ngobrol dengan Alen, Chelka berani berpendapat kalau Alen itu sebenarnya ramah.

“Eh, aku ke kelas dulu ya. Mau ambil tas,” kata Alen yang langsung diiyakan oleh Chelka. Mereka lalu berpisah di ujung koridor.
*

Hari terakhir final, Chelka lagi–lagi tanpa sengaja bertemu dengan Alen, tapi kali ini tanpa senggol–senggolan. Selain membincangkan tentang final tes tadi, mereka mulai membicarakan hal–hal di luar pelajaran, semisal tentang kegemaran masing–masing. Keakraban mereka pun berlanjut ke hari–hari berikutnya.

Dari jauh Dalvin mengamati Chelka yang sedang asyik ngobrol dengan Alen di taman kampus. Entah mengapa ada rasa tidak rela melihat mereka berdua begitu akrab. Ada rasa takut kehilangan dalam diri Dalvin. Takut kalau–kalau Chelka lebih akrab dengan Alen dari pada dirinya. Takut kalau posisinya digantikan oleh Alen. Takut kalau Chelka ternyata mulai memiliki rasa pada Alen.

Ah, kenapa mesti takut. Toh, aku lebih dulu mengenal Chelka dari pada Alen, kata Dalvin dalam hati.

Kecemasan Dalvin ternyata terbukti ketika mendapati Chelka mulai sering sms-an atau telpon-telponan dengan Alen. Meskipun Chelka masih lebih sering berkumpul dengan Dalvin dan Aneta, tetapi Dalvin masih saja merasa aneh.

‘Keanehan’ sikap Dalvin terhadap keakraban Chelka dan Alen akhirnya diketahui Aneta. Cewek cantik yang terkenal cerewet dan ceplas – ceplos itu pun tanpa pendahuluan dan salam pembuka langsung menodongi Dalvin dengan berbagai pertanyaan. Saat itu mereka sedang berada di rumah Aneta. Chelka juga akan datang, tapi setelah dia mengantar adiknya ke toko buku.

“Kamu mengaku saja. Dari caramu memandang Chelka saja, aku sudah tahu kalau kamu itu suka sama dia."

“Jangan sok tahu kamu, Net. Kamu dan Chelka itu sama saja, sama – sama sahabatku,” bela Dalvin.

“Alaaah! Dengar baik–baik, ya. Mata kamu itu tidak bisa bohong. Pandangan kamu beda waktu lihat aku berduaan dengan pacarku dan saat Chelka berduaan dengan Alen yang jelas tidak punya hubungan apa – apa."

Dalvin akhirnya menyerah. Di antara mereka bertiga, memang Aneta yang paling pandai ‘mencium’ gelagat tidak beres. “Iya, aku memang suka sama Chelka. Jauh sebelum aku sendiri menyadarinya...” lalu mengalirlah pengakuan Dalvin tentang perasaannya pada Chelka.

Tanpa sepengetahuan Aneta dan Dalvin ternyata Chelka mendengar pengakuan Dalvin. Dia merasa kaget dan tidak menyangka kalau sahabatnya itu suka dengan dirinya. Padahal Chelka hanya menganggap Dalvin seperti kakaknya sendiri.

“Ehem,” Chelka berdehem.

Dalvin dan Aneta menoleh kaget. “Chelka? Se, sejak kapan...?” tanya Aneta terbata–bata. Dia menoleh cemas ke arah Dalvin yang membeku di tempatnya.

“Aku sudah dari tadi datang. Segitu asyiknya kalian ngobrol sampai salam aku saja tidak dijawab."

“Mmm... Chel, apa kamu tadi dengar pembicaraan kami?” tanya Dalvin gugup.

Chelka memandang Dalvin sebentar lalu berpaling ke arah Aneta, “Anggap saja aku tidak pernah mendengar pengakuan kamu."

“Tapi, Chel...,” Aneta memegang pundak Chelka. “Dalvin benar–benar suka sama kamu."

Dalvin menunduk dalam. Cowok yang terkenal sangat pandai ini diam seribu bahasa. Baru kali ini dia tidak berkutik di depan perempuan. Makhluk lembut yang sangat dikaguminya.

“Dalvin, bukannya aku tidak suka sama kamu. Tapi aku menganggap kamu seperti kakak aku. Lebih dari seorang pacar, aku sangat sayang sama kamu. Kita bisa selalu bersama, tetapi mungkin bukan sebagai pacar. Aku tidak mau merusak hubungan yang lebih indah dari apa pun ini. Aku tidak mampu membayar hari–hari kita bertiga sebagai sahabat. Aku tidak mau kehilangan Dalvin-ku seandainya kita nanti pacaran,” Chelka menggenggam tangan Dalvin erat.

Dalvin menatap mata Chelka lekat, dalam, tanpa kata–kata. Akhirnya dia tersenyum simpul. Senyumnya bahkan lebih manis dari senyum siapa pun yang dikenal Chelka.

“Kamu mengerti kan Dalvin? Aku tidak sanggup kalau ternyata kita pacaran lalu putus.”
Dalvin mengangguk. Mereka bertiga kembali erat. Bukan sebagai pacar, tapi sahabat. Sahabat yang tak tergantikan.
*

Beberapa bulan kemudian, di kampus.

“Jadi kamu belum jadian sama Alen?” tanya Aneta yang ceplas–ceplos.

Chelka mencubit lengan sahabatnya pelan, tapi cukup membuat Aneta meringis. Dalvin yang duduk di samping Chelka hanya tertawa kecil. “Aneta! Siapa juga yang mau sama Alen? Cowok datar yang jarang senyum, sengaknya minta ampun dan playboy itu?!”

Aneta tertawa, “Tapi dia ganteng kan? Hahaha. Kamu sendiri yang bilang kalau Alen itu enak diajak curhat, baik, dan tidak pilih–pilih teman kan?”

“Iya. Dia memang baik dan enak diajak ngomong, tapi bukan berarti dia juga oke diajak pacaran. Lagian dia juga sudah jadian sama teman kelas kamu, kan? Si Deva itu, kan?”

“Bukannya sama Mela, ya? Cewek dari fakultas sebelah?” Dalvin ikut nimbrung.

Aneta dan Chelka berpandangan lalu tertawa. Dalvin hanya garuk–garuk kepala bingung.

“Hahaha. Aku kasih tahu, ya. Alen sudah putus sama Mela tiga bulan yang lalu dan sama Deva? Tinggal kenangan! Seminggu yang lalu dia sudah putus!” jelas Aneta.
Ternyata selain cerewet, Aneta juga biang gosip.

“Hah?! Selamat, Chelka. Kamu punya peluang!!” seru Dalvin.

Chelka hanya geleng – geleng mendengar candaan teman–temannya. Sampai sekarang dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Apakah dia memang suka pada Alen atau hanya sekadar kagum oleh kepandaian cowok itu. Kadang–kadang Chelka senang jika melihat Alen tersenyum, mengiriminya pesan, atau sekadar menyapanya. Apa pun itu, selama tentang Alen, Chelka suka tersenyum.

“Hei! Kamu sedang melamunkan Alen, ya?” goda Dalvin.

Wajah Chelka bersemu.

“Haha. Wajahmu kayak kepiting rebus!” goda Dalvin lagi.

“Hahaha. Chelka, kamu itu sama saja dengan Dalvin. Tidak bisa menyembunyikan perasaan,” tebak Aneta. Dia melirik ke arah Dalvin yang mulai kesal karena namanya dibawa-bawa. “Sebaiknya, kamu harus jujur dengan perasaanmu sendiri. Kalau kamu memang suka, tidak peduli Alen itu playboy, jutek, atau pun cuek."

Dalvin mengangguk setuju, “Mungkin saja kalau kalian sudah pacaran, Alen bisa berubah jadi lebih terbuka lagi dengan orang–orang di sekelilingnya."

“Tenang saja, Chel. Apa pun keputusan kamu nanti, kita berdua selalu dukung kamu,” kata Aneta sambil merangkul pundak Chelka.

Chelka memandang kedua sahabatnya. “Terima kasih, ya. Kalian memang sahabatku yang paling berharga. Kalian selalu ada untukku,” kata Chelka sambil tersenyum manis.
Tiba–tiba ponsel Chelka berdering, ada pesan masuk. Chelka membuka dan membaca pesannya.

From : Alen (085342xxxxxx)
Hai, Chelka. Maaf aku mengganggu. Tapi, aku benar – benar merasa harus mengatakan ini meskipun itu hanya lewat pesan singkat.
Chelka, kamu harus tahu kalau aku suka senyummu. Aku suka tiap kali kamu tertawa. Aku suka tiap mendengar suaramu di telpon. Ah, pokoknya semua tentangmu aku suka!
Chelka, setelah pesan ini kamu baca, terserah apa reaksimu. Aku tidak peduli. Aku tidak akan menyerah untuk suka sama kamu.
Chelka, tiap aku menatap ke matamu... Aku berani bersumpah, ada aku di sana.


Chelka menyimpan ponselnya lalu tersenyum penuh arti.
***

Rabu, 06 Juni 2012

Cinta (Benda) Mati

“Aku mencintaimu.”

Lagi-lagi kudengar kalimat yang sama meluncur dari bibir mungil nan ranum itu. Aku mengintip dari balik jendela. Gadis berambut panjang yang tiap hari, diwaktu yang sama, pukul empat sore, selalu berdiri di depan rumahku.

“Mengapa kau tidak pernah menjawab? Apa kau tidak mencintaiku?” Gadis itu merengut menatap benda tinggi, putih menjulang di hadapannya. “Mengapa kau tidak pernah menjawab?” ulangnya. Hanya keheningan yang menjawab.

Langit senja sudah mulai tampak. Sinar keemasan menyentuh kulit putih yang sudah hampir dua jam mematung di depan rumahku. Aku pun sama, tiap hari diwaktu yang sama, selalu berdiri di balik jendela hanya untuk memandangi lekuk wajah gadis bermata sipit itu. Menunggu kalimat-kalimat lain yang keluar dari bibir merahnya.

Karin, begitu gadis itu dipanggil. Aku mulai mengenalnya setahun yang lalu, saat dia dan kedua orangtuanya baru pindah ke perumahanku dan tinggal di samping rumahku. Dia gadis yang cantik dan menawan. Ya, sangat menggairahkan.

“Apa kau tidak mencintaiku?” Lagi-lagi kalimat yang sama sejak setahun yang lalu. Setiap hari, diwaktu yang sama, selama dua jam. Karin hanya mengucapkan kalimat-kalimat itu. Setiap hari di depan rumahku.

Sekarang senja sudah benar-benar tenggelam bersama pemiliknya. Suara nyanyian burung menjadi latar dari siluet gadis yang masih mematung di depan rumahku. Memandangi benda yang selama setahun ini selalu dipeluk dan dikaguminya.
*
Aku tidak tahu Karin menderita penyakit atau syndrome apa namanya. Aku hanya tahu, sejak setahun yang lalu gadis itu tergila-gila pada benda yang menempel di depan rumahku. Aku tahu kalimat yang sering dia ucapkan hanya ‘Aku mencintaimu’, ‘Apa kau tidak mencintaiku?’, dan ‘Mengapa kau tidak pernah menjawab?

Aku tahu orang-orang menyebut gadis itu gila karena sikapnya. Aku tahu semua laki-laki yang berusaha mendekatinya perlahan mundur teratur saat menyadari kelainan pada gadis itu. Aku tahu alasan orangtuanya pindah ke sini karena tidak tahan melihat anaknya dikucilkan. Aku tahu bahwa sebelumnya, Karin, mencintai benda lain di tempat tinggalnya dahulu. Karin, gadis senja ini, pernah mencintai dinding kamarnya.

Karin, gadis yang sejak setahun lalu selalu mencuri perhatianku, mencuri soreku, dan telah mencuri hatiku. Karin, gadis yang merah bibirnya selalu membuaiku dalam kehangatan senja. Karin, gadis yang tak sedetik pun pernah menoleh ke arahku. Karin, gadis yang mencintai pagar rumahku.
*
“Aku mencitaimu,” bisikku tepat di telinga gadis bermata sipit di sampingku.

Dia tidak berkedip apalagi menoleh ke arahku. Tatapan matanya dingin, memandang lurus benda tinggi putih menjulang di hadapannya. Tangannya memeluk erat benda yang diakui sebagai belahan jiwanya.

“Mengapa kau tidak menjawab?” tanyaku.

Sudah hampir tiga tahun seperti ini. Setiap hari. Aku bahkan pernah berpikir untuk menghancurkan besi menjulang ini dan akhirnya urung tiap kali menatap mata teduh gadis ini. Ya, gadis ini memang gila. Gadis gila yang mencintai benda dingin tak bernyawa. Dan aku, lelaki yang selama tiga tahun selalu mengintip dari balik jendela, mungkin sudah gila. Aku, mencintai gadis ini. Aku mencintai benda hidup di sampingku.

**
Makassar, 1 Mei 2012

Kamis, 20 Oktober 2011

Contoh format penulisan resensi buku

RESENSI BUKU
Judul : Menulis Karangan Ilmiah : Kajian dan Penuntun dalam Menyusun Karya
Tulis Ilmiah
Penulis : Dr. Suherli, M.Pd.
Penerbit : Arya Duta
Tahun terbit : 2007
Tebal : vi + 126 halaman

Kelompok II
PENDAHULUAN
Kegiatan berkomunikasi dapat dilakukan secara lisan dan tulisan. Berkomunikasi melalui tulisan tidak dibatasi oleh kehadiran pembaca dalam suatu ruangan. Berkomunikasi melalui tulisan akan terjalin interaksi antara penulis dengan pembaca hanya melalui tulisan. Pembaca mencoba memahami maksud penulis melalui tulisan yang tampak secara grafika dalam naskah atau buku. Dari sederet kata dan kalimat tersebut, terdapat makna komunikasi yang dijalin penulis yang dipersembahkan kepada pembaca.
Salah satu media komunikasi tertulis adalah karangan atau karya tulis. Banyak sekali bentuk – bentuk karangan yang dapat dijumpai dalam naskah tertulis, salah satu di antaranya adalah karangan ilmu pengetahuan. Namun, karangan ilmu pengetahuan itu terbagi ke dalam karangan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan karangan nonilmiah.
Suatu karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan (Harry Firman).
Karangan ilmiah menyajikan argumen keilmuan berdasarkan fakta. Argument ilmiah itu harus dapat dipercaya dan diterima kebenarannya, sehingga perlu kriteria penyajian yang benar. Penyajian karangan ilmiah harus dilakukan secara logis. Karangan yang ilmiah berarti karangan yang menyajikan argumen dengan menggunakan logika berpikir secara benar. Apabila penyajian karangan ilmiah menggunakan logika yang benar, maka argumen ilmu pengetahuan tersebut akan diterima pula oleh akal atau logika orang yang berpikir ilmiah. Apabila karangan ilmiah menyajikan argument secara objektif, bukan argument yang pribadi, maka akan dipahami pula oleh pembaca sebagai sebuah kebenaran.

ISI BUKU
Buku ini terdiri dari tujuh bab dan dilengkapi dengan topik – topik yang akan dikaji serta ilustrasi berupa tabel – tabel di hampir semua bab. Selain itu, setiap bagian dilengkapi dengan contoh sebagai penunjang penjelasan sebelumnya. Terdapat contoh naskah karangan ilmiah maupun contoh makalah di bagian lampiran yang memudahkan pembaca dalam mendalami topik.
Pada bab satu membahas tentang pentingnya menulis karangan ilmiah dan perkembangan ilmu dalam karangan ilmiah. Kemampuan menulis karangan ilmiah di kalangan pelajar dan mahasiswa sangat dibutuhkan sebagai bentuk kegiatan berkomunikasi melalui tulisan. Kebenaran ilmu pengetahuan diperlukan keselarasan antara argumen dengan dunia luar, keselarasan antarpernyataan logis, keselarasan instrumental atau kebermanfaatan. Selanjutnya dalam bab ini dipaparkan tentang bagaimana pentingnya menulis karya ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dalam karangan ilmiah.
Pada bab dua dibahas tentang pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dalam menuangkan ide dan gagasan ke dalam tulisan ilmiah. Hal – hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menulis karangan ilmiah. Bagaimana memilih jenis – jenis wacana. Selain itu, dalam bab ini dijelaskan pula bagaimana ciri – ciri kalimat efektif dan cara pemilihan diksi serta penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia dalam kalimat.
Di bab tiga dijelaskan tentang argumen keilmuan dalam karangan ilmiah. Penyajian argumen dalam karangan ilmiah perlu mendapat perhatian dari para penulis terutama aspek bahasa yang sesuai dengan muatan ilmiah yang dibawakan. Selain itu disebutkan ciri bahasa dan keilmuan. Beberapa sikap ilmiah yang merupakan pengejawantahan dari mental ilmiah juga dijelaskan dalam bab ini. Juga jenis –jenis karangan ilmiah satu persatu dijabarkan.
Bab empat dijelaskan panjang lebar mengenai karkteristik karangan ilmiah. Sebelumnya, pada bagian awal dipaparkan bagaimana suatu tulisan disebut sebagai karangan ilmiah, bagaimana mengidentifikasi suatu karangan. Menyajikan fakta, menguraikan masalah, menerapkan teori, membahas, memecahkan, serta menyimpulkan masalah adalah beberapa karakteristik karangan ilmiah. Selanjutnya dalam berbagai bagian dalam bab ini dijelakan cara penyajian tiap – tiap karakteristik karangan ilmiah.
Bab lima memaparkan struktur organisasi karangan ilmiah dan struktur pelengkap karangan. Struktur karangan yang dimaksud adalah bagian – bagian karangan, bentuk karangan, atau organisasi setiap bagian karangan, serta bagian referensi sebagai struktur pelengkap. Selain itu, bagian rujukan dan daftar pustaka merupakan indikator penting bagi pengarang dalam menguasai pokok permasalahan yang dihubungkan dengan teori atau konsep yang dijadikan sebagai rujukan, baik sebagai kutipan atau acuan. Di bagian akhir diselipkan ketentuan penulisan daftar pustaka.
Bab enam membahas mekanika penulisan setiap bagian dalam karangan ilmiah. Dalam menuliskan bagian – bagian karangan ilmiah, seringkali terdapat kegamangan bagi para penulis pemula dalam mengungkapkan argumen pada setiap bagian karangan ilmiah. Abstrak, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, landasan teori, pembahasan, simpulan, serta saran adalah bagian – bagian yang terdapat dalam karangan ilmiah. Teknis penulisan bergantung lagi pada penulis dalam bernalar menyusun karangan ilmiah yang dibuat.
Bab tujuh merupakan bagian terakhir dari isi buku, yaitu teknik pengembangan menulis karangan ilmiah. Penjelasan dari bab satu sampai bab enam diterapkan dalam bab ini. Bagian dari bab ini memberikan contoh pengembangan dari gagasan keilmuan dalam bentuk karangan ilmiah berupa makalah dan kerangka karangan. Bagian lain menginformasikan tentang bagaimana pola dalam penulisan jenjang dalam karangan ilmiah.

KOMENTAR
Buku ini sangat bermanfaat dalam menyiapkan karya tulis ilmiah, khususnya pelajar dan mahasiswa yang sedang melaksanakan studinya. Seringkali para pelajar masih bingung tentang tata cara menulis suatu karya ilmiah yang benar. Membuat suatu karangan ilmiah berskala kecil seperti makalah dapat melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian. Buku yang ditulis oleh Dr. H. Suherli, M.Pd., membahas secara rinci tentang pedoman penulisan karangan ilmiah. Setiap bab mengkaji tentang proses – proses penyusunan karangan ilmiah. Selain itu, buku ini sangat bermanfaat bagi para pengajar khususnya guru atau pengajar bahasa Indonesia dalam mengajarkan cara penyusunan dan pengembangan karangan ilmiah yang benar kepada siswanya. Dengan memperhatikan penjelasan – penjelasan dalam buku ini diharapkan dapat memberi pemahaman – pemahaman lebih lanjut dalam menerapkan proses – proses pengembangan tulisan karangan ilmiah serta mampu membuat karangan ilmiah sesuai dengan kaidah penulisan karangan ilmiah yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Firman, Harry. 2000. Menulis Karangan Ilmiah. [On Line]. Tersedia: http://www.fmipa.upi.edu/bi/pdf/menulis_kip.pdf. [13 Maret 2011].

Firman, Harry. 2000. Menulis Karangan Ilmiah. [On Line]. Tersedia: http://www.fmipa.upi.edu/bi/pdf/menulis_kip.pdf. [13 Maret 2011].

Jumat, 22 Juli 2011

Pendidikan Pembebasan

Salam Pendidikan!!

kawan, pernah dengar kata 'Pendidikan Pembebasan'??

apa yang terlintas dibenak kalian mendengar kata tersebut???

Kebetulan saya adalah salah satu mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia di salah satu Universitas Negeri di Makassar. selain itu, saya adalah penghuni dua lembaga kemahasiswaan, yang satu bergerak di bidang pendidikan dan yang satunya bergerak dalam hal jurnalistik.

Pendidikan Pembebasan dalam persepsi saya adalah semua orang bebas memperoleh pendidikan, semua orang bebas memperoleh ilmu. bukan hanya orang kaya atau orang berduit saja yang bisa sekolah.

Sekolah pun jangan diartikan sempit. Sekolah menurut saya adalah tempat memperoleh ilmu. Bukan suatu gedung yang berisi beberapa ruangan hampir mirip penjara. ditutupi dinding kokoh (persis kan?). sekolah pendidikan pembebasan adalah sekolah di mana siapa pun dan kapan pun bisa memperoleh ilmu. Tidak ada aturan yang memberatkan, tidak ada pakaian seragam, tidak ada si kaya atau si miskin...

nah, menurut kamu...

Pendidikan Pembebasan itu seperti apa??

Lagi, FBS luluskan 179 Mahasiswa

Aula DG 101-102 FBS UNM mendadak dipenuhi dengan orang – orang berkebaya atau pun berjas. Tampak wajah – wajah sumringah nan cerah memenuhi wajah para tamu yang datang. Tatkala kami menengok ke dalam ruangan, tampaklah spanduk besar yang menjelaskan tentang ramah tamah FBS UNM. Inilah yang menjadi alasan wajah – wajah sumringah tadi. Wajah para orang tua dari mahasiswa yang telah lulus itu pun menunjukkan wajah bangga. Entahlah bangga atau mungkin lega. Bangga karena anaknya lulus dengan nilai memuaskan dan tepat waktu atau lega karena akhirnya anaknya lulus dengan nilai di atas rata – rata.
Pukul 09.00 wita acara ramah tamah dibuka dengan tarian Toraja yang dibawakan oleh Bengkel Sastra (Bestra). Dra. Sutraina P., S.Pd. bertindak sebagai MC membuka acara. Suasana ruangan berubah tatkala Dekan FBS UNM, Dr. Kisman Salija (title kulupai) memberikan sambutannya. Dalam pidatonya, Dekan FBS UNM terpilih ini berpesan agar para lulusan memanfaatkan ilmunya bagi masyarakat yang membutuhkan. Beliau juga mengharapkan kesediaan alumni untuk senantiasa berkomunikasi dengan almamater kampus FBS UNM. “Jaga nama baik almamater kita,” harapnya. Tak lupa beliau memberikan dorongan bagi alumni yang mau melanjutkan studi ke jenjang S2.
Setelah sambutan, Dekan FBS UNM memperkenalkan beberapa petinggi – petinggi Fakultas Bahasa dan Sastra, termasuk juga petinggi setiap jurusan yang ada di Fakultas ungu ini. Sebelum memanggil setiap nama, beliau sempat berkelakar bahwa rata – rata petinggi birokrasi kampus hanya dikenal karena tanda tangannya saja. Kebanyakan mahasiswa tidak mengenal muka dosen – dosen mereka. Berdasarkan pengalaman memilukan tersebut, maka beliau ingin lebih memperkenalkan nama – nama petinggi birokrasi di kampus ungu ini.
Setelah Dekan FBS UNM memperkenalkan satu per satu petinggi birokrasi, MC kemudian membacakan jumlah mahasiswa yang akan diwisuda khusus di Fakultas Bahasa dan Sastra. Jumlah mahasiswa yang akan diwisuda sebanyak 179 mahasiswa.
Khusus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Studi Pendidikan, mahasiswa dengan predikat terbaik dibacakan oleh Ketua Prodi Pendidikan BSI, Drs.H. A. Wardihan, M.Pd., yaitu : 1. Baso Angriadi : 3,70 dengan masa akademik 4 thn 7 bln
2. Marwan Mansyur : 3,70 dgn masa akademik 4 thn 7 bln
3. Hamdali : 3, 62 dengan masa akademik 4 thn 7 bln
Untuk Program Studi Sastra Indonesia dibacakan oleh Ketua Prodi Sastra, Dr. Juanda, M.Hum., peraih IPK tertinggi yaitu: Latifa : 3, 77 dgn indeks prestasi sangat memuaskan.
Semoga para alumni Fakultas Pencetak para pendidik ini bisa melahirkan para pemimpin yang bukan hanya terdidik, tetapi mampu membawa nama baik almamater kampus ungu dan menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain. *nvy, azs.