Resensi buku

Selasa, 11 Desember 2012

Orang-orang yang Kutemui Sepanjang Perjalanan-

Aku pertama kali bertemu dengannya di salah satu sudut restoran cepat saji yang biasa kudatangi bersama karibku, Eki. Tapi, kali itu aku sedang sendiri.

Sehari sebelumnya adalah ulang tahunku. Dia mengucapkan selamat melalui media sosial Twitter. Entah kenapa tiba-tiba--melalui media yg sama--kuajak dia untuk bertemu esok sore. Semacam kopi darat--istilah yang sering digunakan nettizen--di restoran cepat saji langgananku.

Esoknya aku datang duluan. Aku duduk menunggu di salah satu meja di sudut ruangan sambil melipat kertas origami yang selalu kubawa di dalam tasku.

Lima belas menit kemudian, dia datang. Tidak sendiri, ternyata. Ada seorang lelaki di sampingnya. Oh, iya. Aku belum bilang kalau yang sedang kutunggu adalah seorang perempuan kan? Ya, dia datang bersama seorang lelaki. Belakangan kutahu kalau lelaki itu juga adalah teman dunia mayaku. Dunia yang (tidak) sempit.

Kami bertiga cepat akrab, mengingat di antara kami tidak ada yang memiliki sifat pemalu. Ya, aku tahu itu. Kedua teman baruku membawa dua hal yang luar biasa menurutku. Si wanita pandai merajut dan si pria pandai bersajak. Aku tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka. Aku tidak peduli. Toh, nanti aku akan tahu dengan sendirinya. Sore itu, aku diajari merajut. Dengan huruf 't' di akhirnya, bukan 'k'.

Teman baruku ini unik. Dia tipe perempuan yang terbuka, dalam hal perasaan, menurutku. Di pertemuan kedua dia sudah berani menceritakan soal lelaki yang (pernah) ada di hidupnya.
Mereka baru saja putus beberapa pekan yang lalu, akunya waktu itu. Aku percaya itu. Tampak jelas dari suara dan ekspresinya saat bercerita tentang lelaki gondrong mantan pacarnya itu, bahwa dia masih cinta.

Di pertemuan kedua pula aku yakin kalau perempuan perajut itu juga pandai merajuk pada pacarnya, dulu. Dia bilang, sering marah saat pacarnya mengobrol dengan perempuan lain. Mereka memutuskan berpisah pun tidak jauh dari soal cemburu. Apa kubilang? Dia memang perajut yang suka merajuk.

Besok, kami berjanji bertemu di restoran cepat saji itu lagi. Akan menjadi pertemuan kelima kami. Dia berjanji akan mengajariku merajut syal. Aku pun yakin dia akan membawa cerita tentang pria gondrong yang sering membuat matanya bengkak itu lagi.

Mengapa kukatakan dia salah satu orang luar biasa di hidupku? Sebab karena dia, cerita ini lahir. Hmm..., apakah tadi aku sudah mengatakan kalau perempuan itu bernama Hening?

Selasa, 30 Oktober 2012

Dara dan Senyum Matahari

“Tidak ada senja yang sama. Senja selalu membawa cerita berbeda setiap hari dan aku selalu menikmatinya. Aku tak ingin bersusah payah kembali ke hari kemarin hanya untuk menikmati senja. Sebab, senja sudah kurekam dalam sajak. Begitu pula cinta….”

Dulu, aku selalu merasa orang yang paling malang di dunia. Lelaki paling kasihan. Ya, dulu, saat aku dan Alya putus. Bagaimana tidak, kami sudah berpacaran cukup lama. Tiga tahun, sejak kelas dua SMA. Di tahun ketiga, Alya memutuskan hubungan tiba-tiba dengan alasan yang tidak masuk akal. Dia akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Dia tidak sanggup jika menjalani hubungan jarak jauh. Persetan! Saat itu aku sangat muak dan marah.

Itu dulu. Sebelum setahun kemudian aku bertemu dengan Dara, si pemilik senyum matahari. Dara, tetangga baruku, hadir membawa tujuh warna pelangi untukku. Dia mengubah hidupku bahkan sejak pertama kami berkenalan. Demi apapun, ingin kucuri sedikit keceriaan di dalam senyumnya.

Saat aku terpuruk mengingat masa lalu, dia seperti lilin kecil memberi terang dalam hidup yang telah kuanggap kelam sejak hubunganku dengan Alya berakhir tragis. Dulu, aku selalu ingin menghentikan waktu setiap kuingat Alya. Sebab sakitnya benar-benar sampai ke ulu hati.

Kini, aku pun ingin menghentikan waktu. Bedanya, sekarang karena Dara. Gadis itu, dengan senyum hangatnya—seperti bunga matahari, cerah—benar-benar membuatku ingin menghentikan dunia. Agar lebih lama bisa kukagumi paras elok itu. Aku bahkan lupa sudah berapa lama aku tenggelam dan menutup pintu dari perempuan lain. Semua karena Dara.

“Apa yang kausuka dariku, Adera?” tanya Dara suatu hari.

Aku tersenyum dan memandang wajah ovalnya. “Kau membuat segalanya lebih indah, Dara. Ada banyak bunga di hatimu. Ada banyak pelangi di senyummu. Aku mau memetik dan mengambil satu warnanya, kuberi untukmu.”

Wajah itu merona karena malu. Aku suka.

“Oh, ya? Bunga apa yang akan kaupetik dan warna apa yang akan kaupilih?”

Aku menyentuh pipinya dengan satu jariku. “Bunga matahari dan warna jingga. Kau yang terbaik, Dara. Kau.”
**

Kamis, 06 September 2012

Tak Ada Tempat Untukmu Lagi

Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu, sungguh tak pernah. Tapi, untuk menerimamu kembali di hidupku…. Aku tak punya kesempatan kedua untukmu.

“Kita sudah berakhir,” kataku tegas. Cukup tegas hingga membuat lelaki di depanku tertunduk lesu.

“Tapi, aku sudah berubah. Aku bukan lagi lelaki yang sama dengan setahun yang lalu. Bukan lagi lelaki yang cemburuan, egois, dan posesif,” katanya dalam.
Aku tersenyum. “Relakanlah semua. Kita sudah berakhir. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.”

Dia bergerak untuk memegang tanganku, menggenggamnya erat hanya sekadar untuk meyakinkanku bahwa dia benar-benar ingin kembali padaku. “Sampai detik ini, kau masih kuanggap bintang yang paling bersinar di antara sinar langit lainnya.”

Aku melepas genggamannya, pelan. Lalu aku menggeleng seraya ikut meyakinkannya, “Aku masih ingat pengkhianatanmu waktu itu. Jujur, aku sangat hancur saat kulihat kau selingkuh dengan sepupuku sendiri. Tapi, tahukah kamu Rendra? Detik ini juga aku sudah ikhlas dengan semuanya. Tak ada dendam lagi di sini…” Aku menunjuk tepat di hatiku. “Di sini bukan lagi tempatmu, Ren. Aku bukan lagi bintangmu dan tidak akan pernah lagi menjadi bintangmu.”

“Aku mohon…,” pintanya memelas.

Lagi-lagi aku menggeleng, tegas. “Percuma, Rendra. Di hatiku tak ada lagi tempat untukmu. Kita sudah berakhir…. Sejak kau memutuskan memacari sepupuku.” Aku berusaha menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba muncul saat mengatakan kalimat itu. Kepingan memori setahun yang lalu muncul kembali. Menari indah di pikiranku, di depan mataku. Saat itu aku benar-benar hancur. Butuh waktu enam bulan untuk memperbaiki kepingan tersebut, bahkan mungkin hingga detik ini.

Aku tersenyum tipis ke arah Rendra, mantan kekasihku. “Rendra, terima kasih atas semua usahamu. Semoga kita bisa menjalin hubungan baik sebagai teman. Hanya sebatas teman, Rendra….”
**

Rabu, 05 September 2012

Semua tentang Chelka

Matahari menyembul dari balik awan, tanpa ragu membagi sinarnya ke seluruh penjuru. Siang yang terik tak membuat Chelka gentar berjalan menyusuri lapangan basket kampusnya. Dengan ransel di punggungnya cewek berkaca mata itu tergesa – gesa menuju ruang perkuliahan yang terletak di sebelah utara. Chelka terpaksa memotong jalan melewati lapangan basket yang ‘terang’ karena sinar matahari.

Tiga menit lagi final mata kuliah Kritik Sastra dimulai. Chelka memasuki ruang kelas dengan napas terengah – engah. Matanya menyapu seluruh ruangan mencari bangku yang belum berpenghuni.

“Chelka!” panggil Dalvin.

Chelka berbalik ke arah suara dan mendapati sahabatnya sedang melambai ke arahnya. Cewek manis itu lalu berjalan menuju bangku kosong tepat di sebelah Dalvin, yang ternyata memang dipersiapkan untuknya.

“Kok terlambat?” tanya Dalvin.

“Macet." Dan pengawas pun datang.
*

Chelka baru saja dari kelas Aneta yang juga sahabatnya -tetapi berbeda kelas- ketika tanpa sengaja dia bersenggolan dengan seseorang di ujung koridor. “Oh, maaf,” kata Chelka tanpa memperhatikan wajah orang yang ditabraknya.

No problemo. Eh, Chelka ya?”

Chelka akhirnya menoleh ke arah si empunya suara. Barulah dia melihat dengan jelas wajah cowok itu. Garis mukanya datar, dengan alis yang sama tipis dengan garis bibirnya. Rambutnya acak – acakan seperti belum disisir. “Oh, iya. Alen, kan? Teman sekelasnya Aneta?”

Cowok yang ternyata bernama Alen itu pun mengangguk. Chelka yang tadinya berniat ke kantin akhirnya batal ke kantin karena Alen mengajaknya ngobrol. Mereka membahas soal–soal final tadi.

Chelka terkesima karena kepandaian cowok di depannya. Bukan hanya soal sastra, bahkan lebih dari itu Alen bisa menjelaskannya. Teori beserta ahlinya pun tak luput dari penjelasannya. Chelka hanya berani berkomentar, “Ternyata kamu itu pintar, ya? Tapi kata Anet, kamu itu jarang bicara di kelas. Padahal kalau aku lihat, kamu itu cerdas!” kata Chelka polos.

Alen hanya tersenyum tipis. Sekali lagi Chelka terpana. Bukan karena senyum Alen yang mau dilihat dari sudut mana pun memang sangat manis, tapi karena dia teringat julukan teman–temannya untuk Alen, yaitu ‘cowok datar’. Untuk ukuran orang yang baru pertama ngobrol dengan Alen, Chelka berani berpendapat kalau Alen itu sebenarnya ramah.

“Eh, aku ke kelas dulu ya. Mau ambil tas,” kata Alen yang langsung diiyakan oleh Chelka. Mereka lalu berpisah di ujung koridor.
*

Hari terakhir final, Chelka lagi–lagi tanpa sengaja bertemu dengan Alen, tapi kali ini tanpa senggol–senggolan. Selain membincangkan tentang final tes tadi, mereka mulai membicarakan hal–hal di luar pelajaran, semisal tentang kegemaran masing–masing. Keakraban mereka pun berlanjut ke hari–hari berikutnya.

Dari jauh Dalvin mengamati Chelka yang sedang asyik ngobrol dengan Alen di taman kampus. Entah mengapa ada rasa tidak rela melihat mereka berdua begitu akrab. Ada rasa takut kehilangan dalam diri Dalvin. Takut kalau–kalau Chelka lebih akrab dengan Alen dari pada dirinya. Takut kalau posisinya digantikan oleh Alen. Takut kalau Chelka ternyata mulai memiliki rasa pada Alen.

Ah, kenapa mesti takut. Toh, aku lebih dulu mengenal Chelka dari pada Alen, kata Dalvin dalam hati.

Kecemasan Dalvin ternyata terbukti ketika mendapati Chelka mulai sering sms-an atau telpon-telponan dengan Alen. Meskipun Chelka masih lebih sering berkumpul dengan Dalvin dan Aneta, tetapi Dalvin masih saja merasa aneh.

‘Keanehan’ sikap Dalvin terhadap keakraban Chelka dan Alen akhirnya diketahui Aneta. Cewek cantik yang terkenal cerewet dan ceplas – ceplos itu pun tanpa pendahuluan dan salam pembuka langsung menodongi Dalvin dengan berbagai pertanyaan. Saat itu mereka sedang berada di rumah Aneta. Chelka juga akan datang, tapi setelah dia mengantar adiknya ke toko buku.

“Kamu mengaku saja. Dari caramu memandang Chelka saja, aku sudah tahu kalau kamu itu suka sama dia."

“Jangan sok tahu kamu, Net. Kamu dan Chelka itu sama saja, sama – sama sahabatku,” bela Dalvin.

“Alaaah! Dengar baik–baik, ya. Mata kamu itu tidak bisa bohong. Pandangan kamu beda waktu lihat aku berduaan dengan pacarku dan saat Chelka berduaan dengan Alen yang jelas tidak punya hubungan apa – apa."

Dalvin akhirnya menyerah. Di antara mereka bertiga, memang Aneta yang paling pandai ‘mencium’ gelagat tidak beres. “Iya, aku memang suka sama Chelka. Jauh sebelum aku sendiri menyadarinya...” lalu mengalirlah pengakuan Dalvin tentang perasaannya pada Chelka.

Tanpa sepengetahuan Aneta dan Dalvin ternyata Chelka mendengar pengakuan Dalvin. Dia merasa kaget dan tidak menyangka kalau sahabatnya itu suka dengan dirinya. Padahal Chelka hanya menganggap Dalvin seperti kakaknya sendiri.

“Ehem,” Chelka berdehem.

Dalvin dan Aneta menoleh kaget. “Chelka? Se, sejak kapan...?” tanya Aneta terbata–bata. Dia menoleh cemas ke arah Dalvin yang membeku di tempatnya.

“Aku sudah dari tadi datang. Segitu asyiknya kalian ngobrol sampai salam aku saja tidak dijawab."

“Mmm... Chel, apa kamu tadi dengar pembicaraan kami?” tanya Dalvin gugup.

Chelka memandang Dalvin sebentar lalu berpaling ke arah Aneta, “Anggap saja aku tidak pernah mendengar pengakuan kamu."

“Tapi, Chel...,” Aneta memegang pundak Chelka. “Dalvin benar–benar suka sama kamu."

Dalvin menunduk dalam. Cowok yang terkenal sangat pandai ini diam seribu bahasa. Baru kali ini dia tidak berkutik di depan perempuan. Makhluk lembut yang sangat dikaguminya.

“Dalvin, bukannya aku tidak suka sama kamu. Tapi aku menganggap kamu seperti kakak aku. Lebih dari seorang pacar, aku sangat sayang sama kamu. Kita bisa selalu bersama, tetapi mungkin bukan sebagai pacar. Aku tidak mau merusak hubungan yang lebih indah dari apa pun ini. Aku tidak mampu membayar hari–hari kita bertiga sebagai sahabat. Aku tidak mau kehilangan Dalvin-ku seandainya kita nanti pacaran,” Chelka menggenggam tangan Dalvin erat.

Dalvin menatap mata Chelka lekat, dalam, tanpa kata–kata. Akhirnya dia tersenyum simpul. Senyumnya bahkan lebih manis dari senyum siapa pun yang dikenal Chelka.

“Kamu mengerti kan Dalvin? Aku tidak sanggup kalau ternyata kita pacaran lalu putus.”
Dalvin mengangguk. Mereka bertiga kembali erat. Bukan sebagai pacar, tapi sahabat. Sahabat yang tak tergantikan.
*

Beberapa bulan kemudian, di kampus.

“Jadi kamu belum jadian sama Alen?” tanya Aneta yang ceplas–ceplos.

Chelka mencubit lengan sahabatnya pelan, tapi cukup membuat Aneta meringis. Dalvin yang duduk di samping Chelka hanya tertawa kecil. “Aneta! Siapa juga yang mau sama Alen? Cowok datar yang jarang senyum, sengaknya minta ampun dan playboy itu?!”

Aneta tertawa, “Tapi dia ganteng kan? Hahaha. Kamu sendiri yang bilang kalau Alen itu enak diajak curhat, baik, dan tidak pilih–pilih teman kan?”

“Iya. Dia memang baik dan enak diajak ngomong, tapi bukan berarti dia juga oke diajak pacaran. Lagian dia juga sudah jadian sama teman kelas kamu, kan? Si Deva itu, kan?”

“Bukannya sama Mela, ya? Cewek dari fakultas sebelah?” Dalvin ikut nimbrung.

Aneta dan Chelka berpandangan lalu tertawa. Dalvin hanya garuk–garuk kepala bingung.

“Hahaha. Aku kasih tahu, ya. Alen sudah putus sama Mela tiga bulan yang lalu dan sama Deva? Tinggal kenangan! Seminggu yang lalu dia sudah putus!” jelas Aneta.
Ternyata selain cerewet, Aneta juga biang gosip.

“Hah?! Selamat, Chelka. Kamu punya peluang!!” seru Dalvin.

Chelka hanya geleng – geleng mendengar candaan teman–temannya. Sampai sekarang dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Apakah dia memang suka pada Alen atau hanya sekadar kagum oleh kepandaian cowok itu. Kadang–kadang Chelka senang jika melihat Alen tersenyum, mengiriminya pesan, atau sekadar menyapanya. Apa pun itu, selama tentang Alen, Chelka suka tersenyum.

“Hei! Kamu sedang melamunkan Alen, ya?” goda Dalvin.

Wajah Chelka bersemu.

“Haha. Wajahmu kayak kepiting rebus!” goda Dalvin lagi.

“Hahaha. Chelka, kamu itu sama saja dengan Dalvin. Tidak bisa menyembunyikan perasaan,” tebak Aneta. Dia melirik ke arah Dalvin yang mulai kesal karena namanya dibawa-bawa. “Sebaiknya, kamu harus jujur dengan perasaanmu sendiri. Kalau kamu memang suka, tidak peduli Alen itu playboy, jutek, atau pun cuek."

Dalvin mengangguk setuju, “Mungkin saja kalau kalian sudah pacaran, Alen bisa berubah jadi lebih terbuka lagi dengan orang–orang di sekelilingnya."

“Tenang saja, Chel. Apa pun keputusan kamu nanti, kita berdua selalu dukung kamu,” kata Aneta sambil merangkul pundak Chelka.

Chelka memandang kedua sahabatnya. “Terima kasih, ya. Kalian memang sahabatku yang paling berharga. Kalian selalu ada untukku,” kata Chelka sambil tersenyum manis.
Tiba–tiba ponsel Chelka berdering, ada pesan masuk. Chelka membuka dan membaca pesannya.

From : Alen (085342xxxxxx)
Hai, Chelka. Maaf aku mengganggu. Tapi, aku benar – benar merasa harus mengatakan ini meskipun itu hanya lewat pesan singkat.
Chelka, kamu harus tahu kalau aku suka senyummu. Aku suka tiap kali kamu tertawa. Aku suka tiap mendengar suaramu di telpon. Ah, pokoknya semua tentangmu aku suka!
Chelka, setelah pesan ini kamu baca, terserah apa reaksimu. Aku tidak peduli. Aku tidak akan menyerah untuk suka sama kamu.
Chelka, tiap aku menatap ke matamu... Aku berani bersumpah, ada aku di sana.


Chelka menyimpan ponselnya lalu tersenyum penuh arti.
***

Rabu, 06 Juni 2012

Cinta (Benda) Mati

“Aku mencintaimu.”

Lagi-lagi kudengar kalimat yang sama meluncur dari bibir mungil nan ranum itu. Aku mengintip dari balik jendela. Gadis berambut panjang yang tiap hari, diwaktu yang sama, pukul empat sore, selalu berdiri di depan rumahku.

“Mengapa kau tidak pernah menjawab? Apa kau tidak mencintaiku?” Gadis itu merengut menatap benda tinggi, putih menjulang di hadapannya. “Mengapa kau tidak pernah menjawab?” ulangnya. Hanya keheningan yang menjawab.

Langit senja sudah mulai tampak. Sinar keemasan menyentuh kulit putih yang sudah hampir dua jam mematung di depan rumahku. Aku pun sama, tiap hari diwaktu yang sama, selalu berdiri di balik jendela hanya untuk memandangi lekuk wajah gadis bermata sipit itu. Menunggu kalimat-kalimat lain yang keluar dari bibir merahnya.

Karin, begitu gadis itu dipanggil. Aku mulai mengenalnya setahun yang lalu, saat dia dan kedua orangtuanya baru pindah ke perumahanku dan tinggal di samping rumahku. Dia gadis yang cantik dan menawan. Ya, sangat menggairahkan.

“Apa kau tidak mencintaiku?” Lagi-lagi kalimat yang sama sejak setahun yang lalu. Setiap hari, diwaktu yang sama, selama dua jam. Karin hanya mengucapkan kalimat-kalimat itu. Setiap hari di depan rumahku.

Sekarang senja sudah benar-benar tenggelam bersama pemiliknya. Suara nyanyian burung menjadi latar dari siluet gadis yang masih mematung di depan rumahku. Memandangi benda yang selama setahun ini selalu dipeluk dan dikaguminya.
*
Aku tidak tahu Karin menderita penyakit atau syndrome apa namanya. Aku hanya tahu, sejak setahun yang lalu gadis itu tergila-gila pada benda yang menempel di depan rumahku. Aku tahu kalimat yang sering dia ucapkan hanya ‘Aku mencintaimu’, ‘Apa kau tidak mencintaiku?’, dan ‘Mengapa kau tidak pernah menjawab?

Aku tahu orang-orang menyebut gadis itu gila karena sikapnya. Aku tahu semua laki-laki yang berusaha mendekatinya perlahan mundur teratur saat menyadari kelainan pada gadis itu. Aku tahu alasan orangtuanya pindah ke sini karena tidak tahan melihat anaknya dikucilkan. Aku tahu bahwa sebelumnya, Karin, mencintai benda lain di tempat tinggalnya dahulu. Karin, gadis senja ini, pernah mencintai dinding kamarnya.

Karin, gadis yang sejak setahun lalu selalu mencuri perhatianku, mencuri soreku, dan telah mencuri hatiku. Karin, gadis yang merah bibirnya selalu membuaiku dalam kehangatan senja. Karin, gadis yang tak sedetik pun pernah menoleh ke arahku. Karin, gadis yang mencintai pagar rumahku.
*
“Aku mencitaimu,” bisikku tepat di telinga gadis bermata sipit di sampingku.

Dia tidak berkedip apalagi menoleh ke arahku. Tatapan matanya dingin, memandang lurus benda tinggi putih menjulang di hadapannya. Tangannya memeluk erat benda yang diakui sebagai belahan jiwanya.

“Mengapa kau tidak menjawab?” tanyaku.

Sudah hampir tiga tahun seperti ini. Setiap hari. Aku bahkan pernah berpikir untuk menghancurkan besi menjulang ini dan akhirnya urung tiap kali menatap mata teduh gadis ini. Ya, gadis ini memang gila. Gadis gila yang mencintai benda dingin tak bernyawa. Dan aku, lelaki yang selama tiga tahun selalu mengintip dari balik jendela, mungkin sudah gila. Aku, mencintai gadis ini. Aku mencintai benda hidup di sampingku.

**
Makassar, 1 Mei 2012

Kamis, 20 Oktober 2011

Contoh format penulisan resensi buku

RESENSI BUKU
Judul : Menulis Karangan Ilmiah : Kajian dan Penuntun dalam Menyusun Karya
Tulis Ilmiah
Penulis : Dr. Suherli, M.Pd.
Penerbit : Arya Duta
Tahun terbit : 2007
Tebal : vi + 126 halaman

Kelompok II
PENDAHULUAN
Kegiatan berkomunikasi dapat dilakukan secara lisan dan tulisan. Berkomunikasi melalui tulisan tidak dibatasi oleh kehadiran pembaca dalam suatu ruangan. Berkomunikasi melalui tulisan akan terjalin interaksi antara penulis dengan pembaca hanya melalui tulisan. Pembaca mencoba memahami maksud penulis melalui tulisan yang tampak secara grafika dalam naskah atau buku. Dari sederet kata dan kalimat tersebut, terdapat makna komunikasi yang dijalin penulis yang dipersembahkan kepada pembaca.
Salah satu media komunikasi tertulis adalah karangan atau karya tulis. Banyak sekali bentuk – bentuk karangan yang dapat dijumpai dalam naskah tertulis, salah satu di antaranya adalah karangan ilmu pengetahuan. Namun, karangan ilmu pengetahuan itu terbagi ke dalam karangan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan karangan nonilmiah.
Suatu karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan (Harry Firman).
Karangan ilmiah menyajikan argumen keilmuan berdasarkan fakta. Argument ilmiah itu harus dapat dipercaya dan diterima kebenarannya, sehingga perlu kriteria penyajian yang benar. Penyajian karangan ilmiah harus dilakukan secara logis. Karangan yang ilmiah berarti karangan yang menyajikan argumen dengan menggunakan logika berpikir secara benar. Apabila penyajian karangan ilmiah menggunakan logika yang benar, maka argumen ilmu pengetahuan tersebut akan diterima pula oleh akal atau logika orang yang berpikir ilmiah. Apabila karangan ilmiah menyajikan argument secara objektif, bukan argument yang pribadi, maka akan dipahami pula oleh pembaca sebagai sebuah kebenaran.

ISI BUKU
Buku ini terdiri dari tujuh bab dan dilengkapi dengan topik – topik yang akan dikaji serta ilustrasi berupa tabel – tabel di hampir semua bab. Selain itu, setiap bagian dilengkapi dengan contoh sebagai penunjang penjelasan sebelumnya. Terdapat contoh naskah karangan ilmiah maupun contoh makalah di bagian lampiran yang memudahkan pembaca dalam mendalami topik.
Pada bab satu membahas tentang pentingnya menulis karangan ilmiah dan perkembangan ilmu dalam karangan ilmiah. Kemampuan menulis karangan ilmiah di kalangan pelajar dan mahasiswa sangat dibutuhkan sebagai bentuk kegiatan berkomunikasi melalui tulisan. Kebenaran ilmu pengetahuan diperlukan keselarasan antara argumen dengan dunia luar, keselarasan antarpernyataan logis, keselarasan instrumental atau kebermanfaatan. Selanjutnya dalam bab ini dipaparkan tentang bagaimana pentingnya menulis karya ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dalam karangan ilmiah.
Pada bab dua dibahas tentang pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dalam menuangkan ide dan gagasan ke dalam tulisan ilmiah. Hal – hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam menulis karangan ilmiah. Bagaimana memilih jenis – jenis wacana. Selain itu, dalam bab ini dijelaskan pula bagaimana ciri – ciri kalimat efektif dan cara pemilihan diksi serta penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia dalam kalimat.
Di bab tiga dijelaskan tentang argumen keilmuan dalam karangan ilmiah. Penyajian argumen dalam karangan ilmiah perlu mendapat perhatian dari para penulis terutama aspek bahasa yang sesuai dengan muatan ilmiah yang dibawakan. Selain itu disebutkan ciri bahasa dan keilmuan. Beberapa sikap ilmiah yang merupakan pengejawantahan dari mental ilmiah juga dijelaskan dalam bab ini. Juga jenis –jenis karangan ilmiah satu persatu dijabarkan.
Bab empat dijelaskan panjang lebar mengenai karkteristik karangan ilmiah. Sebelumnya, pada bagian awal dipaparkan bagaimana suatu tulisan disebut sebagai karangan ilmiah, bagaimana mengidentifikasi suatu karangan. Menyajikan fakta, menguraikan masalah, menerapkan teori, membahas, memecahkan, serta menyimpulkan masalah adalah beberapa karakteristik karangan ilmiah. Selanjutnya dalam berbagai bagian dalam bab ini dijelakan cara penyajian tiap – tiap karakteristik karangan ilmiah.
Bab lima memaparkan struktur organisasi karangan ilmiah dan struktur pelengkap karangan. Struktur karangan yang dimaksud adalah bagian – bagian karangan, bentuk karangan, atau organisasi setiap bagian karangan, serta bagian referensi sebagai struktur pelengkap. Selain itu, bagian rujukan dan daftar pustaka merupakan indikator penting bagi pengarang dalam menguasai pokok permasalahan yang dihubungkan dengan teori atau konsep yang dijadikan sebagai rujukan, baik sebagai kutipan atau acuan. Di bagian akhir diselipkan ketentuan penulisan daftar pustaka.
Bab enam membahas mekanika penulisan setiap bagian dalam karangan ilmiah. Dalam menuliskan bagian – bagian karangan ilmiah, seringkali terdapat kegamangan bagi para penulis pemula dalam mengungkapkan argumen pada setiap bagian karangan ilmiah. Abstrak, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, landasan teori, pembahasan, simpulan, serta saran adalah bagian – bagian yang terdapat dalam karangan ilmiah. Teknis penulisan bergantung lagi pada penulis dalam bernalar menyusun karangan ilmiah yang dibuat.
Bab tujuh merupakan bagian terakhir dari isi buku, yaitu teknik pengembangan menulis karangan ilmiah. Penjelasan dari bab satu sampai bab enam diterapkan dalam bab ini. Bagian dari bab ini memberikan contoh pengembangan dari gagasan keilmuan dalam bentuk karangan ilmiah berupa makalah dan kerangka karangan. Bagian lain menginformasikan tentang bagaimana pola dalam penulisan jenjang dalam karangan ilmiah.

KOMENTAR
Buku ini sangat bermanfaat dalam menyiapkan karya tulis ilmiah, khususnya pelajar dan mahasiswa yang sedang melaksanakan studinya. Seringkali para pelajar masih bingung tentang tata cara menulis suatu karya ilmiah yang benar. Membuat suatu karangan ilmiah berskala kecil seperti makalah dapat melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian. Buku yang ditulis oleh Dr. H. Suherli, M.Pd., membahas secara rinci tentang pedoman penulisan karangan ilmiah. Setiap bab mengkaji tentang proses – proses penyusunan karangan ilmiah. Selain itu, buku ini sangat bermanfaat bagi para pengajar khususnya guru atau pengajar bahasa Indonesia dalam mengajarkan cara penyusunan dan pengembangan karangan ilmiah yang benar kepada siswanya. Dengan memperhatikan penjelasan – penjelasan dalam buku ini diharapkan dapat memberi pemahaman – pemahaman lebih lanjut dalam menerapkan proses – proses pengembangan tulisan karangan ilmiah serta mampu membuat karangan ilmiah sesuai dengan kaidah penulisan karangan ilmiah yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Firman, Harry. 2000. Menulis Karangan Ilmiah. [On Line]. Tersedia: http://www.fmipa.upi.edu/bi/pdf/menulis_kip.pdf. [13 Maret 2011].

Firman, Harry. 2000. Menulis Karangan Ilmiah. [On Line]. Tersedia: http://www.fmipa.upi.edu/bi/pdf/menulis_kip.pdf. [13 Maret 2011].

Jumat, 22 Juli 2011

Pendidikan Pembebasan

Salam Pendidikan!!

kawan, pernah dengar kata 'Pendidikan Pembebasan'??

apa yang terlintas dibenak kalian mendengar kata tersebut???

Kebetulan saya adalah salah satu mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia di salah satu Universitas Negeri di Makassar. selain itu, saya adalah penghuni dua lembaga kemahasiswaan, yang satu bergerak di bidang pendidikan dan yang satunya bergerak dalam hal jurnalistik.

Pendidikan Pembebasan dalam persepsi saya adalah semua orang bebas memperoleh pendidikan, semua orang bebas memperoleh ilmu. bukan hanya orang kaya atau orang berduit saja yang bisa sekolah.

Sekolah pun jangan diartikan sempit. Sekolah menurut saya adalah tempat memperoleh ilmu. Bukan suatu gedung yang berisi beberapa ruangan hampir mirip penjara. ditutupi dinding kokoh (persis kan?). sekolah pendidikan pembebasan adalah sekolah di mana siapa pun dan kapan pun bisa memperoleh ilmu. Tidak ada aturan yang memberatkan, tidak ada pakaian seragam, tidak ada si kaya atau si miskin...

nah, menurut kamu...

Pendidikan Pembebasan itu seperti apa??

Lagi, FBS luluskan 179 Mahasiswa

Aula DG 101-102 FBS UNM mendadak dipenuhi dengan orang – orang berkebaya atau pun berjas. Tampak wajah – wajah sumringah nan cerah memenuhi wajah para tamu yang datang. Tatkala kami menengok ke dalam ruangan, tampaklah spanduk besar yang menjelaskan tentang ramah tamah FBS UNM. Inilah yang menjadi alasan wajah – wajah sumringah tadi. Wajah para orang tua dari mahasiswa yang telah lulus itu pun menunjukkan wajah bangga. Entahlah bangga atau mungkin lega. Bangga karena anaknya lulus dengan nilai memuaskan dan tepat waktu atau lega karena akhirnya anaknya lulus dengan nilai di atas rata – rata.
Pukul 09.00 wita acara ramah tamah dibuka dengan tarian Toraja yang dibawakan oleh Bengkel Sastra (Bestra). Dra. Sutraina P., S.Pd. bertindak sebagai MC membuka acara. Suasana ruangan berubah tatkala Dekan FBS UNM, Dr. Kisman Salija (title kulupai) memberikan sambutannya. Dalam pidatonya, Dekan FBS UNM terpilih ini berpesan agar para lulusan memanfaatkan ilmunya bagi masyarakat yang membutuhkan. Beliau juga mengharapkan kesediaan alumni untuk senantiasa berkomunikasi dengan almamater kampus FBS UNM. “Jaga nama baik almamater kita,” harapnya. Tak lupa beliau memberikan dorongan bagi alumni yang mau melanjutkan studi ke jenjang S2.
Setelah sambutan, Dekan FBS UNM memperkenalkan beberapa petinggi – petinggi Fakultas Bahasa dan Sastra, termasuk juga petinggi setiap jurusan yang ada di Fakultas ungu ini. Sebelum memanggil setiap nama, beliau sempat berkelakar bahwa rata – rata petinggi birokrasi kampus hanya dikenal karena tanda tangannya saja. Kebanyakan mahasiswa tidak mengenal muka dosen – dosen mereka. Berdasarkan pengalaman memilukan tersebut, maka beliau ingin lebih memperkenalkan nama – nama petinggi birokrasi di kampus ungu ini.
Setelah Dekan FBS UNM memperkenalkan satu per satu petinggi birokrasi, MC kemudian membacakan jumlah mahasiswa yang akan diwisuda khusus di Fakultas Bahasa dan Sastra. Jumlah mahasiswa yang akan diwisuda sebanyak 179 mahasiswa.
Khusus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Studi Pendidikan, mahasiswa dengan predikat terbaik dibacakan oleh Ketua Prodi Pendidikan BSI, Drs.H. A. Wardihan, M.Pd., yaitu : 1. Baso Angriadi : 3,70 dengan masa akademik 4 thn 7 bln
2. Marwan Mansyur : 3,70 dgn masa akademik 4 thn 7 bln
3. Hamdali : 3, 62 dengan masa akademik 4 thn 7 bln
Untuk Program Studi Sastra Indonesia dibacakan oleh Ketua Prodi Sastra, Dr. Juanda, M.Hum., peraih IPK tertinggi yaitu: Latifa : 3, 77 dgn indeks prestasi sangat memuaskan.
Semoga para alumni Fakultas Pencetak para pendidik ini bisa melahirkan para pemimpin yang bukan hanya terdidik, tetapi mampu membawa nama baik almamater kampus ungu dan menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain. *nvy, azs.

Minggu, 22 Mei 2011

Pelantikan Pengurus LPM Estetika : “Jangan Remehkan Saraswati”

Ruang senat Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM) Jumat lalu (20/5) menjadi saksi bisu lahirnya jurnalis – jurnalis baru di fakultas ungu. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Estetika kembali melantik 17 pengelola di periode 2011 – 2012 ini.
Mengenakan batik coklat, Pembantu Dekan III FBS UNM, Syukur Saud, memasuki ruangan senat bersama Pemimpin Umum terpilih LPM Estetika, Nurul Khairani. Sekitar dua puluh pasang mata-yang terdiri dari beberapa fungsionaris LK- hadir menyaksikan acara tersebut. Nampak pula beberapa mahasiswa dari Fakultas Sedi dan Desain (FSD) dan wakil dari LPM Watak STIEM BOENGAYA.
Pembukaan pelantikan yang sekiranya dimulai pukul 14.00 WITA ini terpaksa molor selama tiga puluh menit dikarenakan satu dan lain hal. Tepat pukul 14.30 WITA acara dibuka oleh MC. Setelah pembacaan ayat suci Al-Quran, giliran sambutan dari Pemimpin Umum (PU) terpilih. Dalam sambutannya, Rara-sapaan akrab-, yang merupakan pemimpin perempuan keempat di lembaga ini menekankan bahwa kepemimpinan perempuan tidak boleh diremehkan. Mahasiswa eksponen 2009 ini berharap bahwa Estetetika bisa lebih maju dari pendahulu – pendahulunya dan bisa menjadi lembaga objektif di FBS.
Dilanjutkan oleh sambutan dewan senior Estetika, Fadly Herman. Dalam sambutannya kali ini, laki – laki yang mengenakan kemeja biru muda ini lebih banyak menyinggung persoalan Dana Penunjang Pendidikan (DPP). Dia melayangkan autokritik tentang pembatalan DPP yang sifatnya bersifat sementara, “Mengapa cuma setahun dihapus?” ungkapnya.
Pernyataan yang sama juga dilontarkan PD III dalam sambutannya yang lagi – lagi membahas DPP. “Kalau SPP kita mencukupi, mengapa harus ada dana tambahan?” papar Syukur Saud yang juga menyatakan menolak DPP di FBS. Terlepas dari semua masalah yang ada di fakultas ini, beliau berharap banyak pada jurnalis – jurnalis Estetika, “Saya ingin Estetika sebagai lembaga independen, berkembang. Jangan mau kalah dengan lembaga pers yang lain.”
Setelah sambutan selesai, PD III yang mewakili birokrasi kemudian melantik 9 dari 17 pengurus Estetika. Sebelumnya, semua pengelola baru membacakan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Syukur Saud. Sekitar pukul 16.00 WITA acara pelantikan selesai.
Diwawancarai melalui telpon genggam, Demisioner Pemimpin Umum periode sebelumnya, Nining Irawati berharap pengurus periode ini dapat lebih baik dari sebelumnya. “PU yang terpilih bisa menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan pihak lembaga baik di dalam maupun di luar kampus dan tentunya Estetika bisa bangkit serta membangun kembali kejayaannya seperti dulu.” Walaupun periode kali ini lagi – lagi perempuan yang terpilih, itu tidak jadi masalah. “Jangan pernah remehkan kepemimpinan saraswati, karena terkadang kaum saraswati bisa lebih bijak disbanding kaum pandawa,” tutupnya. Memang, kali ini pengelola LPM Estetika lebih banyak perempuan disbanding laki – laki.

Selasa, 17 Mei 2011

Tanpa Judul..i hate title!

Tidurlah...
Selamat malam..
Lupakan sajalah aku..
*Drive>bersama bintang

i2 lg bbrapa thn yg lalu.. Saat Drive mmulai debut sbgai band pndatang baru.. Oops! Skadar perkenalan ..
Sbnarnya yg ingin sy kaji adlah lirik lagunya..
Entahlah..yg jLas, smpai dtik ini, Lagu yg video kLipx bang Anji bs ngilang", liriknya tUh ga bs gua artiin.. Hmm.. Kyknya siH, bang Anji nyuruh pcarnya buat nglupain dia yg udh 'pergi'..
Dia kn blg gni, "tdurlah, slamat mlm.. Lupakn sajalah aku.. Bersama bintang.."

bang Drive, i don't knOw ..ap yg pngen kalian sampaikan siH??
*The End*

Senin, 16 Mei 2011

"Pengagum Rahasia"


Selasa, 10 Mei 2011…
Aktivitas selasa pagi Arinda mulai dengan menyapa sang mentari yang tanpa kenal lelah menyiratkan cahaya – cahaya dari tuhan. Ya, pagi ini sangat panas, setidaknya itulah yang dirasakan Arinda.
Pukul tujuh pagi dia siap – siap ke kampus dengan perasaan malas—sisa-sisa semalam- yang amat sangat. Sebetulnya dia malas ke kampus. Bukan karena sengatan matahari pagi, tetapi lebih karena ‘cuaca’ hatinya yang sedang ‘galau’.
“Aku malas bertemu dengannya. Mudah – mudahan hari ini dia tak muncul di depanku hari ini,” harap Arinda.
Kampus masih sepi ketika Rinda menginjakkan kakinya di sela – sela reruntuhan dedaunan pohon beringin yang tertata rapi di taman kampusnya. Bau tanah yang khas membuatnya rindu suasana desa. Tapi, ketika mengingat ‘dia’, Arinda kembali menghembuskan napas, “Hhhh… tidak bisakah sebentar saja kau hilang dari pikiranku?”
Arinda melanghkah menuju bangku mungil di bawah salah satu pohon beringin itu. Diambilnya headphone dan handphone dari saku tasnya lalu dia mulai memasangnya. Setidaknya, dengan mendengarkan lagu bias mengalihkan pikirannya dari ‘dia’.
Tetapi bukan lupa yang dirasakannya melainkan kembali bayang wajah’nya’ yang melintas di pikiran Rinda. Lagu yang sedang diputar melalui headphone-nya malah membuatnya kesal.
Diam – diam kusuka padamu,
Diam – diam kaucuri hatiku…
Andai kumampu mengungkapkan isi hatiku kepadamu,
Sulit kuberharap kukan milikimu..
Tapi kuhanya mengagumi,
Kuhanya bias begini..
Berapa lamaku berkhayal dan bermimpi…
Arinda kesal karena sekali lagi, lagu itu telah menyindirnya. Arinda tidak menafikkan bahwa itulah yang sedang dia rasakan. Diam – diam dia telah suka pada seseorang, dan seseorang itu benar – benar telah mencuri hatinya.
Arinda malu. Bukan karena telah menyukai seseorang, tetapi karena yang dia kagumi adalah sahabatnya sendiri! Laki – laki yang selama ini t empatnya mencurahkan segala masalah yang dia hadapi, laki – laki yang selama lebih empat tahun selalu di sampingnya dalam keadaan apa pun. Laki – laki itu sahabatnya, yang selalu di sampingnya BUKAN sebagai pasangannya.
to be continue...

"Pengagum Rahasia" foR mE..


Selasa, 10 Mei 2011…
Aktivitas selasa pagi Arinda mulai dengan menyapa sang mentari yang tanpa kenal lelah menyiratkan cahaya – cahaya dari tuhan. Ya, pagi ini sangat panas, setidaknya itulah yang dirasakan Arinda.
Pukul tujuh pagi dia siap – siap ke kampus dengan perasaan malas—sisa-sisa semalam- yang amat sangat. Sebetulnya dia malas ke kampus. Bukan karena sengatan matahari pagi, tetapi lebih karena ‘cuaca’ hatinya yang sedang ‘galau’.
“Aku malas bertemu dengannya. Mudah – mudahan hari ini dia tak muncul di depanku hari ini,” harap Arinda.
Kampus masih sepi ketika Rinda menginjakkan kakinya di sela – sela reruntuhan dedaunan pohon beringin yang tertata rapi di taman kampusnya. Bau tanah yang khas membuatnya rindu suasana desa. Tapi, ketika mengingat ‘dia’, Arinda kembali menghembuskan napas, “Hhhh… tidak bisakah sebentar saja kau hilang dari pikiranku?”
Arinda melanghkah menuju bangku mungil di bawah salah satu pohon beringin itu. Diambilnya headphone dan handphone dari saku tasnya lalu dia mulai memasangnya. Setidaknya, dengan mendengarkan lagu bias mengalihkan pikirannya dari ‘dia’.
Tetapi bukan lupa yang dirasakannya melainkan kembali bayang wajah’nya’ yang melintas di pikiran Rinda. Lagu yang sedang diputar melalui headphone-nya malah membuatnya kesal.
Diam – diam kusuka padamu,
Diam – diam kaucuri hatiku…
Andai kumampu mengungkapkan isi hatiku kepadamu,
Sulit kuberharap kukan milikimu..
Tapi kuhanya mengagumi,
Kuhanya bias begini..
Berapa lamaku berkhayal dan bermimpi…
Arinda kesal karena sekali lagi, lagu itu telah menyindirnya. Arinda tidak menafikkan bahwa itulah yang sedang dia rasakan. Diam – diam dia telah suka pada seseorang, dan seseorang itu benar – benar telah mencuri hatinya.
Arinda malu. Bukan karena telah menyukai seseorang, tetapi karena yang dia kagumi adalah sahabatnya sendiri! Laki – laki yang selama ini t empatnya mencurahkan segala masalah yang dia hadapi, laki – laki yang selama lebih empat tahun selalu di sampingnya dalam keadaan apa pun. Laki – laki itu sahabatnya, yang selalu di sampingnya BUKAN sebagai pasangannya.
to be continue...

Selasa, 03 Mei 2011

Hari Bingung!!


entah mimpi apa semaLam, yang jeLas hari ini benar - benar hari bingung...
muLai dari pagi tadi, sampai detik ini..
terlalu banyak pekerjaan yang diLalui tanpa ada satu pun yang selesai..